Resume Day Two - PKKMB

 


Hari kedua Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme yang tak kalah serunya dari hari pertama terutama semangatnya saya yang berasal dari fakultas kesehatan prodi Gizi. Tiga narasumber yang telah saya pilih untuk saya kupas kali ini hadir untuk membekali mahasiswa baru dengan wawasan yang relevan, kritis, dan membangun karakter mahasiswa di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) pada pagi ini.

Materi pertama disampaikan oleh Pak Ainun Najib yang memberikan sudut pandang kritis dan membangun tentang Perkembangan Teknologi Kecerdasan Buatan (AI).” Menurut beliau, meskipun AI semakin canggih dan banyak tugas manusia yang mulai digantikan oleh mesin, ada dua hal yang tidak bisa dilakukan oleh AI:
  1. "Ai itu cerdas tapi bukan cerdik" tutur beliau. Karena teknologi ai basisnya adalah memproses data yg sangat sangat besar, dan memasukkan data. ada mesin yang belajarya itu dari data. 
  2. Rasa atau empati, perasaan. Ai itu meniru kata kata yang pernah di lihatnya. Dia sebenarnya tidak benar benar menjiwai itu dan inilah yang membahayakan karena ibaratnya dia bermuka dua atau seperti psikopat.
lalu bagaimana menyikapinya? dan beliau membagi jawaban yang berhasil memukau mahasiswa di ruang zoom tersebut. 

"kita sebagai manusia harus punya skill kreativitas dan nilai kesosialan kalau keduanya kita tidak punya maka 100℅ kita lama-lama akan di ambil alih oleh AI" jawabnya tegas.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H., Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019–2024. Dalam penyampaiannya, beliau mengangkat topik tentang Peran Mahasiswa dalam Demokrasi dan Etika dalam Menyuarakan Aspirasi. Beliau menegaskan bahwa menyampaikan pendapat, termasuk melalui demonstrasi, adalah hak warga negara yang dijamin oleh undang-undang. Namun, hak itu harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

"Demo boleh, tapi jangan merusak. Membakar fasilitas umum, merusak lingkungan, itu bukan cara yang patut dibenarkan." ucap beliau.

Dengan kata lain, perubahan sosial harus dilakukan dengan pendekatan yang cerdas dan bermartabat. Perguruan tinggi bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga tempat menanam nilai-nilai luhur. 

Materi terakhir disampaikan oleh Dimas Chairullah, S.Sos., CPS dengan tema “Pengenalan Nilai Budaya, Etika Kehidupan Kampus, serta Bijak Bermedia Sosial.” Di era digital, perilaku mahasiswa bukan hanya terlihat dari sikap di dunia nyata, tetapi juga dari jejak digitalnya. Oleh karena itu, mahasiswa baru diingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

Salah satu hal yang ditekankan oleh pemateri adalah bahaya cyber bullying. Banyak orang merasa bebas berkomentar tanpa berpikir akibatnya.

"Kalau mau nge-bully orang di sosmed, coba tanya dulu ke diri sendiri: ‘Emang kalo kita yang diginiin, nggak sakit?’ Kalau menurutmu itu kejam dan menyakitkan, ya jangan dilakukan."

Jejak digital tidak bisa dihapus 100%. Sekalipun bisa, kemungkinannya kecil. Maka, sebelum kita menyesal di kemudian hari, kita harus berempati dalam setiap aksi di media sosial. Jika ada yang menyerang secara digital di account sosial media kita sebaiknya tidak perlu dibalas. Lebih baik diblokir atau disenyapkan.

"Kendalikan smartphone kamu, jangan sebaliknya." Ujar beliau dengan tegas namun menyentuh. 

 for info : -Facebook
                - Instagram
                - Youtube
                - Twitter ( X )
                - Tiktok

Comments

Popular posts from this blog

Resume Day One - PKKMB

Inovasi Biskuit ‘Fishbean’ Berbasis Pangan Lokal Kaya Protein dan Vitamin A

Kisah Hanif Raih Medali Kejuaraan POMPROV